ARN | MENTOK -- Sepi. Itu kesan pertama saat melangkah ke halaman Laboratorium Kesehatan Masyarakat (Labkesmas) Kabupaten Bangka Barat, Sabtu pagi (8/8/2026).
Bangunan megah bercat putih itu berdiri persis di depan Mapolres Bangka Barat, Dusun Daya Baru, Desa Belo Laut, Kecamatan Mentok. Catnya masih baru. Tapi di beberapa sudut dinding, garis-garis retak sudah menganga. Di kolong lantai dasar, tiang-tiang penyangga berdiri di atas tanah kosong yang juga retak.
Padahal, gedung senilai Rp15,9 miliar dari APBD ini belum pernah sekalipun dipakai. Pembangunannya baru dimulai tahun 2025. Targetnya, Labkesmas ini beroperasi April 2026. Kini Agustus 2026, pintunya masih terkunci.
Harapan Besar, Realita Retak
Bagi warga Bangka Barat, Labkesmas bukan sekadar gedung.
Di sinilah nanti sampel darah dan urin warga diuji. Di sinilah air sumur dicek kelayakannya. Di sinilah deteksi dini penyakit menular dan tidak menular dilakukan, sebelum terlambat.
"Sudah lama kita nunggu. Kalau ada lab sendiri kan nggak perlu kirim sampel keluar. Biayanya mahal, hasilnya lama," ujar seorang warga yang melintas di depan gedung itu.
Namun harapan itu kini berbenturan dengan kenyataan. Keretakan di dinding dan lantai kolong membuat banyak orang bertanya: akankah gedung ini kuat dipakai? Akankah Rp15,9 miliar itu benar-benar jadi layanan, atau hanya jadi bangunan kosong?
Ironis: Proyek Kesehatan, Dikelilingi Sampah
Masalah tak berhenti di bangunannya. Di sekitar kompleks perkantoran Pemkab Bangka Barat, titik pembuangan sampah justru bertambah. Dari sebelumnya 1 titik, kini ada 4 titik. Tumpukan sampah dan bau menyengat jadi pemandangan sehari-hari.
Lebih ironis lagi, di salah satu titik pembuangan sampah itu terpantau pipa utama PDAM bocor deras. Air bersih terbuang percuma, tepat di samping gunungan sampah.
Lingkungan yang seharusnya bersih untuk mendukung layanan kesehatan, justru jauh dari kata layak.
Tanya yang Belum Terjawab
Labkesmas sejatinya adalah jantung pencegahan penyakit. Tanpa lab, deteksi wabah akan terlambat. Tanpa lab, pengawasan kualitas air dan makanan akan pincang.
Warga hanya bisa berharap. Berharap retakan itu segera diperbaiki. Berharap sampah segera diangkut. Berharap April 2026 bukan hanya tanggal di atas kertas.
Karena Rp15,9 miliar bukan angka kecil. Dan kesehatan masyarakat, tidak bisa menunggu lebih lama. (*).


Social Header